Showing posts with label makamjayengrono. Show all posts
Showing posts with label makamjayengrono. Show all posts

Friday, February 5, 2016

Mitos Situs Makam Jayengrono Pulung Ponorogo

Pintu masuk makam jayengrono
Seperti situs-situs sejarah lainnya, situs bersejarah Makam Raden Tumenggung Jayengrono tidak lepas dari mitos yang berkembang di masyarakat setempat. Di makam ini terdapat berbagai mitos, salah satunya mengenai makam tidak bisa menerima jenazah yang berasal dari luar daerah Pulung Merdiko. Mitos ini dipercayai masyarakat hingga sekarang.
Menurut tetua setempat, dahulu ada jenazah yang berasal dari luar daerah desa Pulung Merdiko yang dimakamkan di Makam Jayengrono. Keesokan harinya, warga mendapati makam tersebut seperti ada yang membongkar. Setelah berkonsultasi dengan sesepuh desa Pulung Merdiko, akhirnya jenazah tersebut di pindah ke makam yang lain. Hingga sekarang, yang dimakamkan di makam ini adalah warga keturunan desa Pulung Merdiko.

“tirose tiyang sepuh niku, sing dimakamne ten mriki niki kedah warga desa Pulung Merdiko mbak. Liyane mboten saget nampi, mboten pareng. Lha wong dibongkar malih lho bibar dikubur niku. (katanya orang tua dahulu itu mbak, yang dimakamkan di sini ini harus warga desa Pulung Merdiko. Lainnya tidak bisa menerima, tidak boleh. Setelah dikubur itu dibongkar lagi),” cerita salah satu warga di yang ditemui di depan Makam Jayengrono.

“jarene wong-wong ujud’e Eyang Jayengrono ki macan, mbak. Macan putih. Mulane iso ngeruk makam (katanya orang-orang, wujudnya Eyang Jayengrono itu macan putih. Makanya bisa membongkar tanah makam.),” imbuhnya.
Namun, mitos ini belum bisa sepenuhnya dibenarkan karena mitos ini masih sebatas kepercayaan para orang tua di desa Pulung Merdiko.
Selain itu, merebak kepercayaan di masyarakat bahwa jika dari awal memiliki niat berziarah ke makam Raden Tumenggung Jayengrono I, peziarah harus berjalan jongkok dari depan makam hingga tepat di pesarean Raden Tumenggung Jayengrono. Mitos ini diluruskan oleh juru kunci makam, bahwa hal ini merupakan persoalan etika.
“Ya enggak mbak kalau jongkok dari depan. Istilahnya itu ya menjaga sopan santun saja. Jadi jalan jongkoknya kalau sudah dekat dengan makam saja, seperti sini sama situ.” kata Pak Saroso sambil menunjuk jarak sekitar 1 meter di depannya.
Mitos boleh saja kita dipercaya dan boleh tidak. Hanya saja, sebagai manusia yang selalu hidup berdampingan, kita harus bijaksana membawa diri dimanapun berada.
Salam Pariwisata!!
Kontributor : Oldina Novalia Rahmadaniar.

Thursday, February 4, 2016

Situs Makam Jayengrono

Makam Jayengrono

Siapa sangka di Ponorogo terdapat banyak sekali wisata sejarah yang wajib diketahui, terlebih oleh generasi muda. Selain Situs Makam Raden Bathoro Katong yang membabat tanah Ponorogo, ada lagi situs religi bersejarah yang masih berkaitan dengan perjuangan kesultanan Kartasura (Sekarang Surakarta) merebut kekuasaannya pada masa pemerintahan Pakubuwono II, yaitu Situs Makam Raden Tumenggung Jayengrono. 

gapura menuju makam

Situs Makam Raden Tumenggung Jayengrono berada di 18 Km ke arah timur Kabupaten Ponorogo, tepatnya di Desa Pulung Merdiko, Kecamatan Pulung. Letak makam ini tidak sulit dicari. Dari pusat kota kita hanya perlu menuju ke timur, ke arah Pasar Pulung. Dari Pasar Pulung, kemudian belok kanan sekitar -/+ 500 meter. Di Kanan jalan, kita akan melihat Gapura SMA Negeri 1 Pulung. Melalui gapura tersebut, kita berjalan ke arah barat. Makam Jayengrono terletak di kanan jalan, kurang dari 1 Km dari gapura masuk.
Makam putra dan keturunan Raden Tumenggung Jayengrono I

Di Makam Jayengrono ini selain terdapat makam Raden Tumenggung Jayengrono I, juga terdapat makam istri kedua Raden Tumenggung Jayengrono I, putra-putra Raden Tumenggung Jayengrono I, dan keturunan-keturunan Raden Tumenggug Jayengrono I. di bagian depan, makam ini diperuntukkan bagi masyarakat desa Pulung Merdiko.
Tangga menuju makam utama

Di Makam Jayengrono, makam utama tidak diberi penutup atau yang disebut dengan cungkup. Menurut juru kunci makam, para leluhur memang tidak menghendaki makam diberi cungkup.
“Saya sudah minta izin (secara gaib) sama para leluhur biar bisa dikasih cungkup, ternyata tetap tidak boleh. Jadi yasudah dibiarkan seperti itu,” kata Pak Saroso, juru kunci makam.
Jika kita berniat ziarah makam di sini, syarat utama adalah diri kita harus bersih dan sudah bersuci (berwudhu). Sementara syarat lain adalah membawa dan memakai wewangian yang tidak tercampur dengan alkohol.
“Kalau bisa ya pakai wangi-wangian yang tidak bercampur alkohol ya mbak,” tambah Pak Saroso.
Ketika berkunjung ke Makam Raden Tumenggung Jayengrono, kita tidak langsung masuk ke makam. Jika memang bermaksud ziarah, kita harus izin kepada juru kunci makam. Kemudian juru kunci makam akan melakukan komunikasi gaib dengan para leluhur. Sampai tahap ini masih ada dua kemungkinan, apakah peziarah diizinkan masuk atau tidak. Peziarah tidak dapat memaksa jika memang tidak diizinkan karena jika memaksa justru nantinya akan menimbulkan petaka. Banyak pengunjung yang berdatangan untuk berziarah terutama di bulan Ramadhan.
Situs bersejarah seperti situs Makam Raden Tumenggung Jayengrono ini harus mendapatkan perhatian khusus dan dijaga keberadaannya. Cerita-cerita para pendahulu juga harus diturunkan kepada para generasi muda agar cerita sejarah tidak hilang ditelan jaman.
Salam Pariwisata!!

Kontributor & Foto : Oldina Novalia R.