Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Sunday, June 12, 2016

Terowongan Air Peninggalan Belanda Di Telaga Ngebel

loading...

trowongan air

Trowongan adalah nama yang diberikan oleh masyarakat di Dukuh Nglingi, Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel untuk tempat yang dibangun sejak jaman Belanda berapa puluh tahun silam. 

saluran air difungsikan mengisi telaga ngebel oleh PLN


Menurut cerita yang diyakini masyarakat Dukuh Nglingi, trowongan ini sejatinya adalah saluran air yang dimaksudkan untuk mengalirkan air yang berasal dari Kali Nderam, sebuah sungai dibalik bukit sebelah timur Telaga Ngebel untuk dimasukkan ke Telaga Ngebel. 


Dibangun dengan membuat lorong dari dua sisi, yaitu sisi di sebelah barat gunung dan juga sisi lain disebelah timur. Harapannya dengan pembuatan lorong dari dua sisi ini akan bertemu ditengah-tengah dan bisa tembus hingga dibalik bukit. Namun sayang, ternyata kedua lorong ini tidak bertemu di tengah, sehingga pembangunannya dihentikan. 


Pada jaman Jepang, terowongan ini sempat juga digunakan untuk tempat sembunyi dan penyimpanan senjata. Sehingga beberapa penduduk yang hidup di jaman jepang akan bercerita bahwa ini terowongan Jepang, namun yan hidup di jaman Belanda akan mengatakan bahwa terowongan ini dibuat oleh Belanda. 
 
melewati bawah jembatan ini untuk menuju trowongan
Terowongan ini tepatnya berada di sebelah timur Masjid Jami Kecamatan Ngebel tidak berapa jauh dari Penginapan Griya Larasati. Untuk mengunjunginya, paling bagus mulai jalan dari masjid, sehingga mobil atau sepeda motor bisa diparkir disana, kemudian jalan kaki. Atau bisa juga dengan menitipkan kendaraan baik roda-4 atau roda-2 ke penduduk.
 
saluran air menuju telaga
Memang sedikit menanjak, Begitu ujung aspal habis perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri jalan yang ada dikebun penduduk, barulah kemudian masuk hutan kecil hingga sampai ke Terowongan ini. 
Memang belum ada papan petunjuknya, oleh karena itu jika mau mengunjungi kesana harus bertanya-tanya kepada penduduk di sekitar. 
Uniknya memang tidak banyak yang tahu, khususnya penduduk anak usia muda atau pendatang. Karena bangunan ini dulunya dianggap tidak memiliki makna, dan diyakini banyak dihuni oleh ular berbisa, sehingga masyarakat sejak lama melarang jika ingin melihatnya atau melakukan aktivitas yang berada dalam jarak dekat dengan bangunan ini.

Namun dengan berkembangnya pariwisata di Kecamatan Ngebel, maka masyarakat di sekitar tempat ini berisiniatif untuk membersihkan tempat tersebut sehingga layak untuk dinikmati pengunjung yang suka berpetualang. 

Penulis : Gamar Ariyanto  
Foto Shandy A A Miraza 

Tuesday, June 7, 2016

Situs Purbakala Watu Dukun Sampung Ponorogo


Terletak di kaki gunung suci Dusun Pager Ukir Desa Pager Ukir kecamatan Sampung Ponorogo, terdapat batu besar berusia lebih dari 1000 tahun, situs yang bernilai sejarah tersebut diyakini sebagai tempat pengemblengan Airlangga oleh Mpu Brada setelah terjadinya PARALAYA yaitu penyerangan koalisi kerjaaan Sriwijaya, Wengker dan Wura-wari terhadap kerajaan Medang yang terjadi tahun 1016M.


Kerajaan Medang di bawah kekuasaan Dharmawangsa sedangkan Airlangga adalah meantunya. Pada saat tragedi pralaya di Medang berlangsung pernikahan Airlangga dengan putri Prabu Dharmawangsa. Satu satunya yang berhasil lolos dari serangan tersebut adalah Airlangga yang pada waktu itu berusia 16 tahun.

Air Langga kemudian melarikan diri bersama Narotama dan mengalami masa penggemblengan lahir batin di daerah Pager Ukir.
Berdasarkan cerita rakyat,  Di Situs Pager Ukir inilah Airlangga digembleng ilmu jaya wijaya dan ilmu kanuragan. Hingga akhirnya Airlangga lulus dan diberi gelar oleh gurunya sebagai Prabu Kelono Sewandono sedangkan Narotama berganti nama menjadi Pujanggo Anom.
Kedua tokoh nama Kelono Sewandono dan Pujonggo Anom merupakan tokoh yang digambarkan dalam kesenian reog Ponorogo, yaitu gambaran seorang Satriya yang sakti mandara guna dan berperilaku baik.

Selain batu besar bertuliskan huruf jawa kuno juga terdapat tumpukan batu seperti pepunden berundak ke atas bukit. Diantara tumpukan batu tersebut terpahat tulisan dengan huruf jawa kuno.

Balai Pelestarian Peninggalan dan Purbakala Trowulan Mojokerto sudah melakukan penelitian dengan hasil situs purbakala WATU DUKUN diyakini merupakan sisa bekas peninggalan Airlangga, selain batu bertuliskan huruf jawa kuno pada baris Pertama terbaca WA-BA-CA-NA-WA, dibaris kedua yang atas berbunyi NA-LI, dibaris kedua yang bawah berbunyi WA-NYA/BA-YA, dan di baris terakhir atau ketiga adalah GI-PU-JA-PU-JA-BU-MA (MI). Kondisi itu, kata Juru Kunci Situs Pagerukir sebagai bentuk peralihan kerajaan dari Keraton Yogyakarta menuju kerajaan Wengker. Alasannya, batu yang terpahat itu menunjukkan arti situs pagerukir sebagai lokasi ritual persembahan dan pemujaan sebagai manusia agar mendapatkan keberkahan.
"Tulisan itu menunjukkan lokasi ini sebagai tempat ibadah dan pemujaan," kata Juru Kunci Pagerukir, Bibit Susanto menirukan para peneliti BP3 Trowulan
dan batu persegi adlah bagian dari pendopo, sedangkan tumpukan batu mirip dengan pepunden berndak adalah tempat pengemblengan yang dilakukan Mpu Barada juga Sendang yang terdapat di depanya.

Menuju tempat ini dari alun2 ponorogo ke arah perempatan sumoroto masih lurus belok kanan ke arah sampung SND



Tuesday, May 24, 2016

Sinema Jumat Bareng Sineas Ponorogo 26 Mei 2016


Barong & Jathil, Menjemput Sepi
Kecintaan pada seni akhirnya luntur tatkala kebutuhan dan masa depan yang lebih menjanjikan datang menggoda. Minthul mengalami kegalauan ketika rekan pembarong yang selama ini tampil bersama pamitan akan berhenti membarong. Kehidupan lebih layak sebagai TKI di luar negeri membuat sang pembarong mengharuskan pergi. Minthul sebagai jathil merasa senjakala sebagai jathilan. Tarian tanpa gamelan adalah permintaan terakhir Minthul untuk melepas pembarong.
Tarian tersebut mengisahkan perjalanan, suka duka, dan jeritan para penggiat seni reyog di Ponorogo. 
Bagaimana cerita selengkapnya??






Film "Barong dan Jathil, Menjemput Sepi" adalah judul cuplikan kisah yang tersebut di atas. Film tersebut merupakan salah satu film yang akan diputar dalam event "Sijum Bareng Sipon" (sinema jumat bareng sineas ponorogo) di Gedung Kesenian Ponorogo besok tanggal 26 Mei 2016, jam 19:00.
Selain film di atas masih ada 6 film lagi yang akan diputar berurutan. Film-film adalah tersebut karya sineas Ponorogo.
Masih ada film "Rino Wengi" yang pernah mendapatkan penghargaan di Festival Film Surabaya 2016. Film-film pendek lainya juga bisa dinikmati pada malam tersebut. Penonton juga akan disuguhi dengan film yang menjadi nominasi  di "Festival Film Ponorogo" FEFO 2015 dan 2016.
 
Pemutaran film di Gedung Kesenian Ponorogo ini sedianya terbuka untuk umum dan gratis. Silahkan datang dan nikmati karya sineas Ponorogo. Ajak keluarga, kerabat, kolega untuk menikmati. Kritik dan saran kami harapkan untuk kemajuan sineas di Ponorogo.

Thursday, May 12, 2016

Masjid Agung Kauman Kota Lama Ponorogo

 
masjid agung kota lama ponorogo
Kadipaten Ponorogo/ Kutho Wetan / Kota Lama berdiri pada tahun 1496 masehi dan mengalami perpindahanya tahun 1837 masehi ke Kabupaten Ponorogo yang sekarang ini.

bedug masjid agung kota lama ponorogo

Kadipaten Ponorogo dahulu di perkirakan terletak di seputaran Pasar Pon atau sekitar komplek makam Batorokatong, Masjid Agung Kota Lama ini salah satu bukti arkeologisnya, berlokasi di utara perempatan Pasar Pon.

Bangunan sisa keraton atau kabupaten jaman dahulu banyak terdapat diseputar Masjid Agung Kota Lama tersebut.
prasasti dan masjid agung kota lama


Masjid Agung Kota Lama didirikan pada tahun 1560 masehi, hal tersebut tertulis pada candra sengkolo memet yang berada di depan masjid, walau detilnya sudah mulai pudar dimakan usia.
Masjid ini masih digunakan untuk beribadah dan kegiatan kegiatan lainya seperti mengaji dll.

Hampir setiap hari ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang melakukan wisata napaktilas ponorogo


Team liputan : 
Shandy A A Miraza

Makam Raden Adipati Surodiningrat II Gondoloyo Setono Jenangan

tombak, payung pusaka suryodiningrat2 gondoloyo setono
Tahun 1837 Raden Adipati Surodiningrat II meninggal dan dimakamkan di pemakaman Gondoloyo Setono Jenangan, dengan meninggalkan 6 Istri dan 13 orang anak.
Raden Adipati Suryodiningrat II adalah bupati terakhir kota timur ponorogo (kota lama) yang terletak di sekitar perempatan pasar pon 4 (empat) kilometer dari alun2 ponorogo yang sekarang.



Menurut sejarahnya mbak Wo jurukunci makam dukuh Gondoloyo, dahulu ada seorang putri keraton Surakarta yang sedang mencari saudaranya dia tersesat di daerah Plalangan sebelah barat, warga sekitar bertanya kepada sang putri namun hanya terdiam membisu, tidak beberapa lama menderita sakit dan meninggal dan dimakamkan di daerah jenangan (sekarang terletak di belakang MI Muhammadiyah 2 Jenangan). 

Tidak berselang lama datanglah sang pangeran dari surakarta mencari adiknya, namun belum sampai bertemu adiknya di perjalanan pangeran tersebut sudah mencium bau Gondolayu yang merupakan firasat adiknya sudah meninggal, maka dinamakan dukuh Gondoloyo lah daerah tersebut.

masjid gondoloyo setono

Di areal pemakaman Gondoloyo terdapat sebuah masjid yang terawat dengan baik juga terdapat sebuah bedug kuno besar yang sampai saat ini masih di fungsikan, area parkir yang luas terdapat di depan komplek pemakaman yang total luasnya +/- 1 hektar di dalam makam utama terdapat cungkup utama terdapat 1 buah makam, 1 buah tombak kuno 7 payung yang konon katanya pusaka sang Adipati Surodiningrat II menurut juru kunci makam tersebut.


Ramai dikunjungi pejiarah pada selasa kliwon namun setiap hari juga terbuka untuk umum melalui jurukuncinya.

Team liputan : 
Shandy A A Miraza

Sunday, May 1, 2016

Mengunjungi Peninggalan Megalitikum Gunung Mencil Karangpatihan Balong

batu besar menyerupai kapal

Dibalik kekurangan ada kelebihan. Karangpatihan Balong yang terkonotasi kampung ediot ternyata menyimpan peninggalan jaman prasejarah. Pemuda desa tersebut berusaha bangkit untuk memberdayakan warganya yang dibilang ketertinggalan akibat sebuah takdir, takdir dimana beberapa warganya pertumbuhannya tidak seperti umumnya, Ideot kata kalayak. Lewat berbagai cara pemerintah daerah memberdayakan desa tersebut, mulai dari pengobatan, pendidikan, serta mengangkat taraf hidup. Para pemuda yang tergabung dalam karang taruna tak tinggal diam, mereka mencari spot-spot yang selamat ini tidak begitu diperhatikan.


goa baru menyerupai rumah
Dengan dikelolanya spot-spot tersebut diharapkan warga luar daerah mengenal hal positif selain konotasi kampung ideot.

Selo Jolo Tundo, berbentuk batu-batu raksasa yang berornamen unik. Tiap lapisannya seakan menceritakan sejarah di eranya. Batu tersebut bisa ditemukan di Gunung Mencil yang keberadaannya tidak begitu tinggi yang berada di desa tersebut. Gunung tersebut oleh penduduk desa dipercaya  pecahan dari letusan gunung Lawu pada jaman purba.

Gunung Mencil berada bersebelahan dengan gunung Beruk dan gunung Lanang, semua gunung tersebut sejarahnya sama dengan yaitu pecahan dari letusan Gunung Lawu Purba.

Keunikan gunung Mencil karena menyimpan batu-batu raksasa menyerupai batu-batu Megelit, entah kebenarannya karena sampai saat ini belum ada lembaga peneliti resmi yang menyatakan pernyataan resmi tentang batu tersebut. Batu-batu tersebut petak-petak mirip rumah manusia purba yang memeliki kotak-kaotak seperti bilik. Batu yang paling besar malah mirip perahu, batu ini sering dipakai warga desa untuk tirakat menjauhkan diri dari hirup pikuk keramaian.

Lapisan batu yang berlapis-lapis menjadi daya tarik tersendiri, seperti pahatan alam di tiap generasi. Guratan alam yang dihasilkan menjadikan karya seni yang tak ternilai. Untuk hal itulah para pemuda di desa ini ingin melindungi dan merawat agar tidak dijamah oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Gunung Mencil, berasal dari bahasa Jawa yang artinya menyendiri,  menurut penduduk desa dulu banyak penduduk luar daerah yang bertapa menyendiri di tempat ini.  Keberadaannya di ketinggian  465 MDPL puncak Mencil menyuguhkan panorama alam. Hutan tropis dan hawa yang sejuk membuat para pengunjung terlena sehingga rela berlama-lama di tempat ini.

rumah pohon

Keberadaan rumah pohon yang sudah ada sejak puluhan tahun menambah keunikan dan kerinduan para pengunjung yang pernah memanjat untuk menikmati indahnya alam dari ketinggian. Rumah-rumah pohon tersebut dalam pengawasan karang taruna agar tidak tumbuh liar, dan bisa dipantau keamanannya. Para remaja datang untuk  berfoto selfi-ria, foto-foto mereka akan mengundang teman-temannya di sosial media untuk berkunjung ke tempat ini.

Ke depannya para warga di sini berharap gunung Mencil semakin ramai, sehingga bisa mengangkat taraf hidup serta  bisa mengangkat keterbelakangan yang sudah terlanjur menjadi 'cap' desa Karang Patihan Balong ini. Gazebo-gazebo dan rumah makan di konsepkan di tempat itu dengan mempertimbangkan kelestarian alam serta tidak merusak cagar budaya yang belum tersentuh lembaga tersebut.

Gazebo dan rumah makan bertujuan untuk memberi kenyamanan para pengunjung untuk berisitirahat dan menikmati  kuliner setempat. Gazebo dipilih sebagai ikon karena para pemuda di desa ini berprofesi sebagai pengrajin kayu, dan gazebo menjadi salah satu keunggulan produk dari desa ini. Selain jauh dari perkampungan penduduk tempat ini jauh dari fasilitas umum. Dengan di angkatnya cerita ini para pemuda berharap banyak masukan yang positif untuk kemajuan pariwisata di desa ini.

Penulis : Nanang Diyanto
Foto : Shandy A A Miraza

Monday, April 25, 2016

Legenda Golan dan Mirah

sumber air dari golan akan terlihat jelas bila musim panas ( batu tanda putih)

Beberapa waktu yang lalu tetangga saya mengamuk, lari dan memecahi barang yang ditemui, orang-orang jadi panik, lalu perangkat desa menghubungi polisi untuk membantu menangkapnya dan di bawa ke RSJ. Dia sudah lama mengidap gangguan jiwa sejak belum menikah, dan sudah keluar masuk rumah sakit jiwa. Dan selang 2-3 minggu dia sudah tenang dan bisa bekerja kembali seperti orang normal, tapi bisa kambuh dalam setahun bisa  2-3 kali.


Ada yang menarik dalam kisah ini, menurut orang-orang penyebabkan kutukan karena orang tuanya melanggar larangan yang sudah berlaku sejak ratusan tahun yang lalu di salah satu desa di wilayah kabupaten Ponorogo, orang tuanya menanam kacang kedelai yang menjadi larangan dan pantangan di desa tersebut. Kutukan ini berasal dari sumpah serapah Ki Honggolono ketika berselisih dengan Ki Ageng Mirah tentang perjodohan putera dan puteri mereka.
Di Puskesmas Sukorejo orang Nggolan dan Mirah akan saling mengalah bila salah satu diantaranya periksa dalam satu ruangan, mereka akan bergantian tanpa dikomando, alasan mereka tidak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Dalam satu hajatan di Mirah dan kedapatan orang Nggolan meski dia kerabatnya pasti akan diusir dengan halus, begitu sebaliknya hajatan di Nggolan, konon masakan yang dimasak tidak bakalan bisa masak.
Sering orang luar daerah kebingungan hanya berputar-putar seharian di daerah tersebut karena masalah sepele, sandal atau alas kaki mereka berlepotan (jeblok) tanah dari salah satu desa tersebut dan menginjak desa salah satunya diantar  kedua kedua tersebut.
Dan sugah menjadi rahasia umum barang siapa yang berjudi di daerah Nggolan akan aman, karena kepercayaan bila ada aparat yang menggerebek tempat tersebut akan ketiban sial, dan itu sudah berkali-kali dulu terbukti. Tapi menurut orang-orang sekitar pesarehan Ki Honggolono setahun yang lalu di adakan selamatan yang intinya minta izin agar penggerebekan perjudian di daerah Nggolan selamat, selamat yang menngerebek begitu pula masyarakat sekitarnya, alhasil sampai sekarang orang yang berjudi disitupun tak berani lagi, briliant ide ini karena sudah puluhan tahun kepercayaan tersebut.
Dan masih banyak kisah-kisah menegani 2 desa ini, meski kedua desa ini saling berbatasan, dan kepercayaan tersebut masih berlaku sampai saat ini.
Hal-hal yang masih dipegang teguh dan masih berlaku di kedua desa tersebut diantaranya :
  1. Orang Mirah tidak boleh menanam kedelai

  2. Orang Mirah tidak boleh kawin dengan orang Nggolan atau besanan

  3. Orang Mirah tidak boleh membawa barang atau sesuatu dari Nggolan, begitu pula sebaliknya

  4. Orang Mirah tidak berani menumpuk jerami dan titen (kulit kedelai)

  5. Ada sungai yang mengalir yang melewati Nggolan terus ke Mirah, dan samapai saat ini air yang berasal dari Nggolan dan Mirah tidak mau menyatu bagaikan air dan minyak, meskipun satu keruh dan satunya bening.
Berikut ini cerita asal mulanya;
Dahulu daerah Nggolan ini dipimpin oleh Ki Honggolono, nama desa ini diambil dari nama beliau. Nggolan terkenal daerah subur dan masyarakatnya pekerja keras, Ki Onggolono terkenal sebagai orang yang sakti dan kaya rasa dari hasil pertanian dan peternakan. Beliau mempunyai putera semata wayang yang bernama Joko Lancur yang kegemarannya menyabung ayam. Ayamnya terkenal dan selalu menang.
Namun suatu ketika ayam aduanya kalah ketika diadu didaerah Mirah dan melarikan diri dari gelanggang, dan Joko Lancur-pun mengejarnya sampai di pekarangan Ki Ageng Mirah, dan inilah awal pertemuan Joko Lancur dengan Amirah puteri Ki Ageng Mirah, dan Joko Lancur jatuh cinta, dan memberitahukannya pada Ki Honggolono. Perbedaan agama menjadi kendala, namun demi anak satu-satunya Ki Honggolono memberanikan diri melamar Amirah ke Ki Ageng Mirah.
Ki Ageng Mirah enggan menolak karena tidak ingin terjadi perselisihan, latar belakang beda agama inilah penyebanya, dan untuk menolak secara halus Ki Ageng Mirah menerima lamaran dengan permintaan, yaitu ; Persawahan Mirah bisa diairi dalam waktu semalam, meminta padi dan kedelai satu lumbung penuh, dan kedua lumbung tidak boleh digotong oleh manusia, lumbung harus berjalan sendiri ke Mirah.Dan kesemuanya harus dikerjakan dalam waktu semalam.
Ki Honggolono menyanggupinya, namun Ki Ageng Mirah sudah merasa bakal terjadi bahaya yang akan menimpa desanya, dan segera beliau menuju musholanya untuk berdoa.
Sehari sebelum resepsi Ki Honggolono dengan kesaktiannya bisa mengairi sawah-sawah Mirah, dan bisa menyihir setumpuk jerami menjadi selumbung padi, setumpuk titen (kulit kedelai) menjadi selumbung kedelai. Keesok harinya Joko lancur menuju Mirah diantarkan bapaknya dan para pemuda Nggolan, paling depan lumbung yang berisi padi, dan lumbung yang berisi kedelai. Sesampai di Mirah rombongan disambut sendiri oleh Ki Ageng Mirah dan mempelai perempuan Amirah.
“Maaf kakang Honggolono…. kami tidak bisa menerima perjodohan ini karena kakang tidak bisa memenuhi permintaan kami, selumbung padi isinya jerami, dan selumbung kedelai isinya cuma titen….” kata Ki Ageng Mirah, dan atas seijin Alloh lumbung yang berisi padi dan kedelai tersebut berubah menjadi jerami dan kulit kedelai.
Melihat kejadian tersebut Ki Honggolono malu dan marah, dan sekali hentak tanah bergetar yang mebuat Amirah jatuh terjerembab sampai meninggal.
Sambil bejalan pulang Ki Honggolono berteriak, orang Mirah jangan ada yang menumpuk jerami, menumpuk kulit kedelai, menanam kedelai, jangan besanan dengan Nggolan, bila ada yang melanggar akan celaka.
Melihat calon istrinya mati dengan tragis Joko Lancur segera mencabut kerisnya dan menghunuskan ke dadanya dan keduanya meninggal dan dikebumikan menjadi satu liang lahat di dukuh Mirah.
Demikian awal mula perseteruan antara Nggolan dan Mirah, yang hingga sekarang masih berlaku. Maaf foto hanya perawahan Nggolan, atas saran masyarakat Nggolan untuk tidak mencantumkan foto dari kedua desa tersebut, dan boleh mencantumkannya hanya salah satu dari daerah tersebut.

Penulis Nanang Diyanto

Thursday, April 21, 2016

Wisata Gunung Beruk Karang Patihan Balong Ponorogo

 
spot utama gunung beruk
www.pariwisataponorogo.com gunung Beruk terletak di desa karang patihan balong terdapat salah satu obyek wisata yang patut dikunjungi. Berawal  dari kreatifitas pemudanya berkeinginan mengangkat nama desanya selama ini hanyalah sebuah desa yang terkenal dengan ketertinggalanya, Saat ini sudah menjadi salah satu obyek wisata yang patut dikunjugi di kawasan Ponorogo.



Gunung Beruk terlihat menarik karena terdapat dretan gunung2 di sebelahnya antara lain gunung bangkong terlihat indah apabila di pandang dari gunug beruk. 

Munculah ide membuat Rumah Pohon Kecil diatas bukit beruk, yang kemudian di publish melalui media sosial. Melalui promosi dari sinilah banyak pengguna media sosial penasaran dengan tempat ini dan berkunjung ke lokasi, ungkap Teguh salah satu pengerak pemuda desa Karang patihan saat di kujungi oleh team DISBUDPARPORA Farida Nuraini kasie Promosi , perwakilan paguyuban kakang senduk, Touris Information Centre (TIC ponorogo yang berkantor di belakang panggung utama alun2), Beku (komunitas fotografi Ponorogo) sebagai dokumenter.

Pesona gunung beruk menwarkan keindahan alam dan kesejukan khas daerah pegunungan ditambah beberapa spot permainan outbond yang bisa dilakukan dari semua umur. Yang sampai kami datang tetap berusaha memperbaiki fasilitas outbond, kamar mandi, akses jalan dll.



Menuju tempat ini tidak terlalu sulit, bisa ditempuh kendaraan roda 4 dan roda 2 dengan nyaman. kita mulai dari Alon-alon Ponorogo ke arah Pacitan (selatan) sampai di Perempatan Balong ambil arah kanan/barat, Sampai ke perempatan Ngumpul, Ambil arah lurus (barat), Sampai bertemu perempatan Karang Patihan, Ambil arah kiri (Selatam), kurang lebih +/- 500meter terdapat Gapura /Pos Ronda Anda ikuti jalur tersebut yang sudah terdapat penunjuk arahnya.
Foto & Liputan Shandy


Monday, April 11, 2016

Kemambang Telaga Ngebel Ponorogo

kemambang

Jika anda berwisata ke Telaga Ngebel, mungkin anda akan mendengar penduduk di sekitar telaga Ngebel menyebut-nyebut kata “Kemambang”. Kemambang adalah sebutan bagi pinggiran telaga yang menjorok ke tengah telaga seperti semenanjung. 


Jika anda masuk ke kawasan telaga ngebel dari arah barat daya, atau pintu gerbang yang dekat dengan kanal sungai, dan kemudian berjalan ke arah kanan, maka setelah kira-kira 500 m dari tempat itu anda akan berjalan menikung membentuk seperti angka 3 di tempat yang menjorok ke tengah telaga. Jalan itu akan terlihat lebih banyak berupa batu yang dikikis pinggirnya sehingga bisa dilewati kendaraan.

Menurut cerita orang-orang tua yang pernah hidup dijaman Belanda, jalan diatas batu ini dibuat dengan itu menggunakan bahan peledak dinamit yang di bor di dinding-dinding batu, sehingga bisa diratakan untuk kemudian menjadi jalan yang saat ini bisa dilewati kendaraan. 

Bekas lobang-lobang tempat dinamit untuk memuat jalan itu masih terlihat sampai sekarang. Bisa dilihat didinding jalan yang berbatu itu ada lobang-lobang sebesar lengan orang dewasa, dan disitulah digunakan untuk menempatkan dinamit-dinamit itu.
Nah tempat inilah yang disebut dengan KEMAMBANG.

Mengapa masyarakat menyebut daerah ini dengan sebutan kemambang?, nah inilah uniknya tentang Kemambang tersebut. 
Masyarakat di sekitar tempat itu mempercayai bahwa tempat menjorok ini bukan seperti dinding sebagaimana layaknya pinggiran telaga atau danau atau waduk. Namun batu yang menjorok dan membentuk angka 3 ini dipercaya mengambang diatas air telaga. Jadi jika tidak ada air dibawahnya, maka tebing ini kira-kira kan berbentuk seperti janggut. 
Seperti dahan yang menjorok ke danau. Masyarakat percaya bahwa tempat tersebut mengambang diatas telaga, karena jika kita menghentakkan kaki di tempat itu, maka akan berbunyi mendengung, seakan ada rongga dibawahnya. Percaya tidak percaya namun itulah kepercayaan masyarakat yang kemudian melahirkan penyebutan tempat ini menjadi kemambang. 

Penulis : Gamar Ariyanto

1949 Pusat Pemerintahan Kabupaten Ponorogo Di Desa Kaponan Mlarak

pendopo desa kaponan

Desa Kaponan adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Mlarak kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Kaponan memiliki tiga Dusun yakni dusun Kaponan I, Kaponan II, Kaponan III. Dari tiga dusun tersebut terbagi menjadi 19 RT dan 8 RW . Desa Kaponan memiliki luas wilayah 334.235 ha.


 
Djauhari kepala desa ke 9 desa kaponan
Jumlah penduduknya mencapai 2856 jiwa. Penduduk Desa Kaponan 100% memeluk agama Islam. Dengan Penduduk yang ramah, pemuda yang kompak, dan lingkungan yang masih cukup asri.

Dari sejarahnya Kepala desa Kaponan pertama bernama Sutowijoyo,  mempunyai kerabat dari keraton Solo. Ia bertemu dengan abdul rosyid, seorang pengembara yang tidak suka dengan belanda dari klaten tembayat. 
Abdul Rosyid ingin membangun masjid di timur. Waktu itu beliau tidak mampu karena banyaknya jin yang merusak rumah warga. Abdul rosyid bertemu kembali dengan sutowijiyo dan membuat kesepakatan. 
Abdul rosyid membuka hutan dari barat ke timur untuk membangun masjid yang dinamakan darusholikin, Sutowijoyo membuka hutan dari timur ke barat untu membuat desa.  Dia kebigungan mencari nama yang tepat untuk desanya. Kemudian pada waktu itu, ia  melihat burung merak yang sangat cantik, burung tersebut sedang mencari makan dan minum di kolam berukuran besar yang sekarang dinamakan beji. 
 
beji

beji
lurah beserta team liputan
 
Dari burung merak dijadikan nama  daerah tersebut dengan nama Mlarak, Beji tempat berkumpulnya burung merak tersebut dulu merupakan tempat bermainnya atau berkipunya burung merak. Dan waktu itulah Sutowijoyo memberi nama desa tersebut menjadi Kaponan, yang asal muasal katanya dari kiponan 
  
Tahun 1949 pendopo kabupaten ponorogo pernah berada di desa kaponan kecamatan mlarak. Tepatnya di  balai desa pertama dipakai   sementara pemeritah kabupaten ponorogo selama 6 bulan, Saat Partai Komunis Indonesia  (PKI) memerintah pada masa kepemimpinan bupati  prayitno, oleh karena banyak bangunan bangunan yang dibumi hanguskan di kota ponorogo. Mulai dari pasar, sekolah, gudang sampai Pendopo Kabupaten.
 
 
Pusat pemerintahan pada waktu itu harus dipindahkan, Desa Kaponan di pilih karena pada saat itu kepala desanya adalah figur yang sangat disegani, dan satu daerah yang paling aman.
Tidak hanya pendopo, rumah sakit, kantor polisi, kantor CPM juga boyong di desa kaponan, demikian cerita bapak Djauhari mantan kepala desa ke 9 (sembilan) sekaligus pewaris pendopo tersebut.
Sampai saat ini kondisi bangunan yang dulu dipakai Pendopo Kabupaten Ponorogo tergolong sangat baik. Mebeler seperti Meja, Kursi dan Bomo masih  terpelihara dengan baik. Dibelakang Bangunan terdapat 7 makam keluarga dari 7 (tujuh) turunan.


Marwadi Kepala desa Kaponan saat ini 2016
Pada bagian depan pojok terdapat lonceng yang pada saat itu digunakan sebagai penanda waktu (jam), karena jarang sekali ada jam, Lonceng tersebut dulu bisa terdengar hampir di seluruh desa kaponan pada waktu lonceng dibunyikan, ketika waktu puasa digunakan sebagai penanda waktu sahur dan imsayak.
  
 
Desa Kaponan terkenal sebagai penghasil tembakau dengan kualitas unggul. Sehingga tembakau menjadi icon Desa kaponan, Hasil komoditas pertanian terbesar tentu saja adalah padi, hasil pertanian yang lain adalah, kedelai, jagung, kacang, lombok, dan yang paling dominan  adalah mbako kaponan jenis sompo rejep yang terkenal kualitasnya.

Komoditi lainya adalah kopyor namun sekarang kopyor sudah sangat jarang dikarenakan adanya hama wawung. 
 
team DIBUDPARPORA (TIC,Kakang Senduk)

Thursday, March 10, 2016

Potensi Pariwisata Kabupaten Ponorogo


Potensi pariwisata kabupaten Ponorogo yang beraneka ragam merupakan kekayaan yang sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan terus menerus sehingga ada peningkatan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten Ponorogo.

Salah satu upaya mencapai tujuan tersebut dengan menyebar luaskan informasi potensi pariwisata dan budaya melalui buku ini. Dengan harapan dapat menimbulkan kecintaan terhadap kabupaten Ponorogo dengan potensi yang dimiliki sehingga akan terwujud kehidupan yang mencerminkan sapta pesona ( keamanan, kenyamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keramahan dan kenangan ) untuk Ponorogo yang lebih menarik guna meningkatkan jumlah pengunjung yang datang berwisata ke kabupaten Ponorogo


Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga
Kabupaten Ponorogo

Wisata Air Terjun Widodaren /Sundan Widodaren Talun Ngebel

Air Terjun Sundan Widodaren

Kurang lebih 3 (tiga) km dari telaga ngebel terdapat beberapa obyek wisata dalam satu arah yaitu Sumber Air Tiga Rasa, Sumber air Panas Tirto Husodo, Air terjun widodaren /sundan widodaren.

Air terjun widodaren /sundan widodaren merupakan salah satu obyek yang dimiliki Ngebel dan termasuk air terjun yang paling dekat dengan telaga ngebel. Air terjun ini terletak selatan dari telaga ngebel tepatnya di Dusun Tritis Desa Talun Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo.


Menuju kawasan air terjun ini menyisir pinggiran jembatan Desa Talun  melalui pematang sawah di kanan kiri aliran sungai, kendaraan bisa diparkir di warung kopi pinggir jembatan. Menuju ke lokasi air terjun penulis merekomendasikan pada musim panas dikarenakan debit air yang sangat besar dan warna air coklat bila musim penghujan, Air Terjun ini terdapat 2 dua trap dan 2 kubangan yang cukup luas dan dalam. Hati hati bila bermain air di kubangan, kedalaman air menurut penduduk sekitar lebih dari 10 meter.

Menurut Legenda Air Terjun  Widodaren / Sundan Widodaren Talun Ngebel Ponorogo ini tempat mandinya para bidadari, maka dari itu disebut Widodaren.

Kontributor dan Foto : Shandy A A Miraza