Sunday, January 24, 2016

Monumen Bantarangin


Monumen Bantarangin berada di Somoroto, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Monumen ini terletak sekitar 8 Km ke arah barat dari pusat kota Ponorogo. Terletak di sekitar persawahan dan beberapa rumah penduduk, monumen ini terlihat seperti pelataran yang memiliki panggung sebagai arena pertunjukan.

Akses jalan menuju Monumen Bantarangin terbilang sudah sangat mudah. Jika dari pusat kota atau Alun-alun Ponorogo, kita berjalan ke arah utara menuju perempatan Tambakbayan. Kemudian belok kiri mengikuiti jalan besar, lurus sekitar 6 Km menuju pasar Somoroto. Dari sini terdapat 2 alternatif jalan, menyibak ramainya pasar Somoroto atau melewati jalan utama. Untuk akses yang lebih mudah dan nyaman, pilih akses jalan utama menuju arah Badegan atau Wonogiri. Hanya berjarak sekitar 2 Km dari pasar Somoroto kita akan menemukan gapura Bantarangin di sisi kiri jalan. Melalui gapura tersebut kita berjalan ke arah selatan melawati rumah-rumah penduduk. Sekitar 2 menit dari gapura, tibalah kita di lokasi Monumen Bantarangin.


Di sana terdapat sebuah panggung pertunjukan seperti yang berada di Alun-Alun kota, lengkap dengan pelataran yang cukup luas. Sejak monumen ini berdiri di era bupati Amin, panggung utama dan pelataran ini digunakan untuk memperingati Grebeg Tutup Suro sebagai rangkaian dari prosesi Grebeg Suro (peringatan tahun baru islam di Ponorogo). Saat Grebeg Tutup Suro, di sana rutin diadakan pertunjukan seni Reyog dan Kirab Budaya Festival Bantarangin. Selain penggung, di sana juga berdiri patung Prabu Klono Sewandono yang memengang pecut Samandiman.
Monumen Bantarangin berdiri sejak tahun 2010 di tanah seluas 5.600 meter persegi yang dulunya merupakan area persawahan milik Mbah Kusni, warga sekitar Bantarangin. Pendirian Monumen Bantarangin ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah Reyog Ponorogo. Monumen ini didirikan sebagai tanda bahwa kerajaan Bantarangin dengan Prabu Klono Sewandono sebagai raja memang benar adanya. Menurut penuturan warga sekitar, tanah tempat didirikannya monumen ini dulunya merupakan area Keputrenatau tempat mandi para putri kerajaan Bantarangin.
Kerajaan Bantarangin ki asline milai etan mriko, dugi mriki niki. Tapi negoro pengen mbangun, nggih sumelehe wonten mriki nggih sampun, sami mawon. Ning asline mriku niku asline taman keputren (kerajaan bantarangin itu aslinya mulai daerah timur sampai sini. Tapi karena pemerintah ingin membangun (monumen), ya di sini sama saja. Tapi aslinya di sutu dulu Taman Keputren).” Ujar salah seorang warga.
Bagi pengunjung, jangan khawatir haus atau kepanasan karena terik matahari di sini. Di sekitar Monumen Bantarangin terdapat beberapa warung kecil yang menyediakan aneka minuman dan makanan kecil. Keberadaan warung ini dapat digunakan untuk pengunjung duduk santai menikmati semilir angin persawahan sekitar.

Mari berkunjung ke Monumen Bantarangin menilik sejarah kota bersejarah, Ponorogo. Salam Pariwisata!
Penulis dan foto : Oldina Novalia Rahmadaniar.

Artikel Terkait

Monumen Bantarangin
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email