Showing posts with label grebegsuro. Show all posts
Showing posts with label grebegsuro. Show all posts

Monday, October 12, 2015

Puteri Indonesia Persahabatan 2015 Mengunjungi Pengrajin Reyog Ponorogo

Ponorogo, 12 Okteber 2015
Pengrajin reyog adalah identik dengan kaum lelaki, mulai dari pekerjaan kasar sampai pekerjaan yang halus yang mengerjakan kaum lelaki, dan hanya dalam pemasaran kadang kaum perempuan mulai terjun. Lestari Adhelia dia adalah Puteri Indonesia Persahabatan 2015 yang sedang melakukan lawatan ke Ponorogo dalam rangka perayaan Grebeg Suro, agenda tahunan pariwisata dan keagamaan di Ponorogo.
Padatnya jadualnya sebagai duta Puteri Indonesia dia menyempatkan diri mengunjungi pengrajin reyog yang berada di daerah Kerun Ayu, jalur utama Ponorogo-Wonogiri. Tepatnya di rumah pak Sarju yang sudah puluhan tahun menggeluti kerajianan reyog dan perkakas reyog.
Banyak perbincangan, pertanyaan, dan apresiasi dari Puteri Indonesia ini. Pribadinya yang luwes dan mudah akrab memudahkan bersahat sehingga tak heran terpilih sebagai Puteri Indonesia Persahabatan 2015. Sebagai contoh ketika menemui pak Sarju yang sudah sepuh dengan sopannya dia memperkenalkan diri, namun pak Sarju menjawab sapaan dengan memakai bahasa Jawa. Diapun lantas menggunakan bahasa Jawa untuk mengimbangi pembicaraan dengan Pak Sarju.
"Dalem Lestari Adhelia Puteri Indonesia bapak...." katanya dengan halus.
"Oo nggih nak monggo pinarak mlebet ..." jawab pak Sarju sampil mempersilahakan masuk.

Dia terpukau dengan ketelatenan anak-anak pak Sarju, mulai merangkai bulu merak kedalam kerangka (dadag), berkali-kali dia memegangi bulu merak yang indah biru kehijauan.
"Ini bulu merak asli mas?" tanyannya.
"Bener mbak, ini bulu merak impor dari India." jawab anak pak Sarju.
"Tempat kita sudah jarang ada merak, dan yang membedakan merak India dan Indonesia cuma warna, kalau merak Indonesia warnanya cenderung biru berkemilau, sedangkan kalau merak India berwarna hijau kemilau...." imbuhnya lagi.
"Ini dari merah hidup lalu disembelih mas?" tanyanya semakin serius
"Ini bulu merak yang sudah berodol atau rontok, atau merak yang sudah mati mbak..." jawab anak Pak Sarju.
"Oww saya kira dari burung merak yang masih hidup, kan kasihan dan dilindungi kan mas?" sambil manggut-manggut, rasa penasarananya mulai mendapat jawaban.
Menurut Kakang Senduk yang mendampingi Puteri Indonesia ini, pada tahun lalu rombongan reyog yang membawa dadag merak tidak boleh masuk Thailand karena dianggap penyiksaan dan membunuh hewan yang dilindungi. Setelah diberi keterangan serta bukti-bukti akhirnya group kesenian reyog tersebut bisa tampil di negara tersebut. Sebelum berangkat ke Thailand sudah disediakan dokumen-dokumen yang diperlukan, karena itu merupakan salah satu kendala yang harus dihadapi.
"Awalnya reyog memakai burung merak yang diawetkan mbak, dan ketika merak sulit didapatkan diakali dengan merak imitasi seperti ini mbak..." kata anak pak Sarju sambil menunjukkan merak-merakan yang dipasang dalam reyog dadag.

Rasa penasaranpun kembali menghampirinya, dengan takut-takut ketika mendekat barongan yang menyerupai kepala harimau. Banyak pertanyaan yang diajukan, terutama tentang perlindungan satwa langka, satwa yang seharusnya tidak boleh dibunuh untuk diambil sesuatunya.
"Ini kepala hari mau betulan mas?" tanyanya yang mengundang tawa.
"Bukan mbak ini kepala reyog, ini yang dinamakan barongan, ibi topeng besar yang dibentuk menyerupai harimau mbak, dan bukan kepala harimau..." jawab mas Darsono salah satu keponakan pak Sarju.
"Maksud saya apakah ini kulit harimau mas?" tanyanya sambil tersenyum, dia bermaksud mempertegas pertanyaannya yang tadi.
"Ini kulit lembu mbak yang dibikin mirip dengan kulit harimau, nanti saya tunjukin dibelakang proses pembuatan dan pewarnaannya..." jawab mas Darsono.
Sebelum tahun 80-an kepala reyog berbahan kulit harimau asli, dulu kepala reyog (barongan) tidak boleh disentuh oleh perempuan, barongan ini begitu di sakralkan. Diirawat dan beri sesaji setiap malam Jumat. Diberi wewangian dan dibakari dupa dibawahnya. Entah mengapa setelah era tahun tersebut  larangan tersebut sudah hilang dengan sendirinya, apa mungkin karena bukan kulit harimau? Tidak tahulah.
Sejak saat itu seringkali penari jathilan perempuan atau tamu dipanggul di atas kepala reyog tanpa rasa takut kuwalat seperti dulu lagi.

Sampai ruang belakang ditunjukan cara membikin kulit lembu berubah menjadi kulit harimau, kulit lembu diberi warna loreng sesuai alur warna kulit macan dengan menggunakan cat yang halus, cat tersebut cat khusus mirip cat rambut yang tahan air dan tahan panas. Warnanya menyesuaikan dengan warna kulit jenis hariamau yang dikehendaki.
Dengan seksama Puteri Indonesia ini memperhatikan tahap demi tahap.
"Ini kayak wig ya mas?" tanya sambil tersenyum.
"Itu buntut sapi mbak, buntut-buntut sapi ini dipasang untuk rambutnya barongan dan ganongan yang seperti diunjung itu mbak..." jawab mas Darsono sambil menunjuk ke arah temannya yang sibuk memasang rambut yang berasal dati buntut sapi ini ke ganongan (topeng).
"Awas kotor mbak tangannya...." kata mas yang sibuk memasang rambut pada ganongan.
"Tidak apa-apa mas, nanti ya cuci tangan..." jawabnya sambil terus memgangi rambut-rambut ekor sapi.


Ada kebaggaan tersendiri dengan mengetahui langsung proses pembuatan reyog ini, Lestari Adhelia mengatakan, "Saya takjub dengan kesenian reyog, saya salut pada pak Sarju dan kelurganya dalam melestarikan kesenian adi luhung ini."
"Yang membuat saya lega adalah ternyata bahan dari reyog ini bukan dari hewan hidup, hewan yang dilindungi seperti cerita yang berkembang, ternyata bulu meraknya impor dan itupun dari bulu merak yang sudah rontok, begitu pula kulit harimaunya ternyata kulit sapi yang dibuat sedemikian rupa." katanya lebih jelas lagi.
Perlu diketahui pak sarju ini bukan satu-satunya pengrajin reyog di Ponorogo, masih ada puluhan pengrajin lain yang mengalami kendala serta tantangan yang sama yaitu dengan perlindungan satwa yang hampir punah.

Menurut pak Sarju permintaan menjelang festival seprti ini meningkat, dalam satu stel reyog (dua dadag merak kompilt dengan kepala) bisa dia penuhi dalam 2 bulan. Permintaan kali ini dari daerah Sumatra dan Kalimantan. Semakin sulitnya mendapat bulu merak semakin mahal pula harga yang diberikan. Cinta terhadap seni tak menghalangi para pecinta seni untuk menebusnya, kata pak Sarju.

"Selamat datang Di Ponorogo Kota Budaya, Selamat datang di Bumi Wengker"

Oleh Nanang Diyanto

Friday, October 9, 2015

Pameran Fotografi dan Seni Rupa Dalam Rangka Perayaan Grebeg Suro 2015



Ponorogo 8 Oktober 2015, Bertempat di Salah Satu Mall Terbesar Ponorogo City Center resmi dibuka pameran Fotografi dan Senirupa, diawali laporan kegiatan oleh Ketua Komunitas Fotografi Ponorogo "Beku Institute" dr. Praminto Nugroho dalam laporanya tema pameran kali ini "Pesona Indonesia" karya yang masuk 271 se nusantara. dari 271 karya di kurasi oleh panitia menjadi 100 karya yang memenuhi kriteria.

dr. Praminto Nugroho

Sugeng Ariyadi

Dilanjutkan laporan kegiatan oleh Ketua Kegiatan Pameran Senirupa Sugeng Ariyadi, memaparkan tema Mozaik Grebegsuro yg di ikuti oleh Perupa Ponorogo. Acara yg dimulai sejak tanggal 7 - 20 Oktober 2015 ini diharapkan bisa memacu para perupa untuk lebih dalm berkreasi.

Acara yang di pandu oleh Wakil 1 Senduk Ponorogo 2015 ini dilanjutkan dengan Sambutan sekaligus resmi dibukanya Pameran  Fotografi dan Seni Rupa Dalam Rangka Perayaan Grebeg Suro 2015 oleh Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Ponorogo Sapto Djatmiko dengan joke2 ala ponoragan khasnya, mengapresiasi para seniman yg turut serta berperan mempromosikan pariwisata, budaya ponorogo

Setealah memberikan sambutan dilanjut dengan secara simbolis membuka acara dengan mengoreskan cat minyak di kanvas yang sudah di sediakan oleh panitia
Dilanjutkan melihat seluruh karya foto dan senirupa di ikuti oleh rombongan kakang senduk 2015 dan seluruh peserta pameran yang hadir.

















 Tampak Wisatawan mancanegara juga mengunjungi Pameran Fotografi dan Seni Rupa Dalam Rangka Perayaan Grebeg Suro 2015 ini, mereka begitu terpesona dan sangat menikmati














Pameran Pusaka Dalam Rangka Grebeg Suro 2015


Ponorogo, 9 Oktober 2015
Bagi orang yang suka atau cinta sesuatu, materi tidak bisa menjadi ukuran, berapapun harganya, seberapa mahalnya pasti dia akan berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara. Hal itulah yang diungkapkan pak Kenit salah satu kolektor pusaka. Bagi dirinya merupakan pantangan mengistilahkan jual beli barang pusaka barang warisan budaya, dalam kalangannya sesama kolektor mengistilahkan 'mas kawin', mas kawin ini tidak ada patokannya bagi siapa yang menyukai atau membutuhkan pasti dibayar asalkan ada yang melepasakan, jelasnya.

Mereka juga tidak boleh menyebut memiliki barang-barang pusaka tersebut meskipun sejatinya itu merupakan koleksinya. "Kulo namung kedunungan mas...." katanya, dia cuma kebetulan ketempatan.
Memiliki berarti menguasai dan terkesan ada riak atau kesombongan sehingga merasa ber-hak. Mereka menganggap barang pusaka adalah barang resik (bersih) barang warisan para leluhur yang diperoleh dengan segala perjuangan luar biasa, tirakat dan menyucikan diri. Mereka menganggap kolektor atau pemilik adalah wadah atau tempat.
"Barang-barang resik tersebut tidak bakalan mau menempati wadah yang kotor, barang bersih harus ditempat yang bersih, barang kotor tempatnya ya ditempat kotor." kata nya.


Pak Kenit yang tergabung dalam Paguyuban Tunggul Nogo mengikuti pameran dalam rangka menyabut Grebeg Suro yang diadakan di pendopo agung kabupaten Ponorogo, dia tidak mau diistilahkan pamer lagi-lagi dia takut disebut sombong, dia ingin orang lain bisa menikmati dengan melihat barang-barang bersejarah ini. Karena sudah jarang sekali orang jaman sekarang yang peduli dan mau merawat barang pusaka dengan berbagai alasan.
Ratusan jenis pusaka yang dipamerkan di tempat ini umumnya berupa keris, pedang, dan senjata perang jaman dahulu. Umur benda-benda pusaka sudah sangat tua, mulai jaman kerajaan Hindu di Indonesia sampai jaman kejayaan Islam di Nusantara. Setiap pusaka mempunyai cerita, sejarah, serta pernah dipergunakan pada masa kejayaan era pusaka tersebut dibuat.

Pameran ini tak hanya dikuti kolektor tuan rumah, beberapa kolektor dari Yogyakarta, Surakarta, Jakarta, Bandung, Kutai Taruma Negara, Sulawesi, dan Bali. Pengunjung bisa melihat dari dekat koleksi-koleksi dari pelosok nusantara, karena banyak koleksi berasal dari daerah lain meski para kolektor bukan berasal dari daerah asal pusaka tersebut dibuat.
Di pendopo ini juga digelar bursa barang pusaka, banyak kolektor dan peng-hoby barang pusaka akan hadir, entah namanya bursa atau lelang namun intinya mereka melepas dan menerima barang-barang tersebut. Tempat bursa ditempatkan di bagian tengah pendopo, sedangan gerai pameran berada di barat dan timur.

Ada juga senjata koleksinya yang bentuk dan ukirannya perpaduan antara pusaka kerajaan di Jawa dan kerajaan di Kalimantan, ini pertanda kalau jaman pusaka dibuat sudah ada komunitas yang dihuni oleh kedua kerajaan tersebut, paling tidak sudah ada kerja sama baik sejara ekonomi ataupun budaya, jelasnya lagi.
Dia datang ke pameran bukan untuk menjual atau melepas, kalau bisa malah ingin menambah koleksinya.
Menurut Pak Gatot mengoleksi barang pusaka sama halnya menjada warisan budaya, karena bila barang-barang seperti ini jatuh ke kolektor lura negeri sama halnya Indonesia kehilangan barang sejarah, kehilangan budaya, kehilang warisan leluhur, katanya.
Belum ada undang-undang khusus yang mengatur keluar masuknya senjata pusaka sering kali barang pusaka sering lepas ke kolektor manca negara, katanya. Berbeda dengan barang yang sudah masuk cagar budaya perlindunganya lebih ketat. Dia berharap pemerintah tanggap akan hal ini, karena tak mungkin dia terus mengoleksi barang barang tersebut karena keterbatasan dana. Barang-barang pusaka ini dia dapatkan dari lelang dan bursa, dia bermaksut ingik mengoleksi agar tidak lepas pada kolektor asing yang juga sama-sama memburunya.

Semoga dengan digelarnya pameran benda pusaka ini bisa membangkitkan kecintaan kita pada warisan budaya, mereka begitu peduli akan barang pusaka warisan leluhur tersebut. Sementara diluar kalangan mereka beredar anggapan musrik, syirik, menyekutukan. Itulah kenyataan yang harus dihadapi, semoga kita semua ikut peduli, begitu juga pemerintah terutama kementrian yang terkait. Barang-barang pusaka tersebut tentunya tak ternilai harganya. Kalau bukan kita siapa yang akan peduli??
"Selamat datang di Ponorogo Bumi Wengker, Selamat datang di Kota budaya"

Penulis Nanang Diyanto

Thursday, October 8, 2015

Festival Reyog Nasional XXII Secara Resmi Dibuka oleh Wagub Jatim


Ponorogo, 8 Oktober 2015
Kehadiran Wakil Gubernur Jatim Syaifulloh Yusuf (Gus Ipul) dalam pembukaan Festival Reyog Nasional XXII semalam benar-benar terasa gaungnya. Gus Ipul datang mewakili Gubernur Jawa Timur yang berhalangan hadir. Tak heran luasnya alun-alun Ponorogo serasa tak kuasa menampung ribuan warga yang ingin menyaksikan pembukaan festival yang memperebutkan Piala Presiden tersebut.
Dalam sambutannya yang terkesan santai, Gus Ipul mengatakan, "Ponorogo harus bangga punya ikon reyog, yang tidak seperti kabupaten lain yang masih pusing mencari dan masih harus menggali simbol tersebut, reyog adalah simbol Ponorogo, reyog adalah identik dengan Jawa Timur, reyog adalah milik Indonesia, jaga warisan leluhur yang luar biasa ini."

Dalam memberikan sambutan semalam, Gus Ipul meminta didampingi pejabat bupati Ponorogo, Sekwilda selaku ketua panitia, Komandan Korem, Komandan Lanud Iswahyudi, Komandan Kodim Ponorogo, Kapolres, Kajari, Kepala Pengadilan Tinggi, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Timur, Kepala Kementerian Agama Ponorogo. Sambutannya santai disertai dialek bahasa Jawa Timuran yang berkali-kali mengundang gelak tawa. Kesemuanya memakai pakaian warok, pakaian khas Ponorogo.

"Aku malih mangklingi, kabeh wong alok yen aku mundak enom nggawe klambi warok ngene, Dan Lanud yo malih ketok enom ora katon serem tak dongakno sampeyan dadi panglima TNI, Pak kapolres yon mundak ngganteng katon ora serem tak dongakno sampeyan dadi kapolri " katanya yang disambut tawa terpingkal-pingkal baik beliau-beliau yang di panggung maupun para penonton yang di bawah.
"Nggantenge ngganteng tapi wit sore aku bingung kebelet pipis, la clono e ra ono resletinge cumak di kolori, aku suwe mikir piye carane pipis banjur aku takon menyang Pak Bupati tak kongkon marahi pipis...," kata Gus Ipul yang membuat semakin terpingkal-pingkal, Gus Ipul mengatakan memakai pakaian reyog terlihat ganteng tapi bingung ketika akan pipis karena celana kolornya tanpa resleting, dan hanya dililiti kolor besar, seperti gambar di atas.
Gus Ipul juga menanyakan pakaian pegawai ketika menjelang grebeg Suro seperti saat ini, dan dijawab oleh Bupati semua pegawai pemerintah yang laki-laki wajib memakai baju warok sedangkan yang perempuan batik motif merak khas Ponorogo. Jadi tidak heran banyak polisi memakai blangkon khas Ponorogo ketika sedang mengatur lalu lintas, banyak satpam yang memakai blangkon, banyak guru, perawat yang memakai blangkon saat bekerja pada saat perayaan seperti sekarang ini.
Dalam akhir pidatonya Gus Ipul mengharap warga Ponorogo ikut menyukseskan pilkada serentak, dan mengimbau seluruh PNS untuk bersikap netral, biarlah apa yang dikehendaki rakyat itulah yang terbaik. Pegawai negeri diimbau tidak ikut-ikutan dukung-mendukung salah satu calon sehingga roda pemerintahan nantinya tidak terganggu.


Sebelum Festival Reyog Nasional XXII dibuka secara resmi, Wagub dan penonton disuguhi tari-tarian yang ditarikan oleh seni tari di bawah pembinaan Dinas Pariwisata dan Budaya Jawa Timur.











 

Tari yang pertama tampil adalah tari Bedoyo. Tarian ini menceritakan kehidupan manusia, ada awal ada akhir, ada kelahiran ada kematian, di dunia ini ada suka ada duka, ada dunia ada akhirat, sehingga perlu keseimbangan. Baik secara jasmani maupun rohani, antara pekerjaan dan pengabdian. Tarian ini ditarikan oleh 15 penari perempuan, mereka lemah gemulai diawali dengan hadirnya kehidupan yang disambut sukacita dan diakhiri oleh tabur bunga mirip kematian, tarian ini diiringi oleh gabungan gamelan reyog, gamelan jawa, dan sesekali seperti mirip gamelan Banyuwangi-an yang rancak.

Tari Emban Kinasih tampil setelah tari Bedoyo. Tarian Emban Kinasih ini berkostum lucu dengan warna yang terang, dengan tata rias wajah lucu mirip badut, mereka adalah emban-emban para pengasuh, yang bekerja dengan tulus baik dibayar atau tidak. Dengan kesabaran dan ketelatenan, para emban ini mengasuh junjungannya sehingga bisa menampilkan para pemimpin yang luar biasa. Dalam cerita ini emban adalah para pengasuh anak raja atau bangsawan, para emban ini nyaris 24 jam berada di samping para anak bangsawan ini sehingga perannya dalam pemerintahan meski tidak ketara namun luar biasa. Hancurnya negara bisa dari para pengasuh ini, dan jayanya negara karena emban kinasih ini.
Tariannya lucu sering kali mengundang gelak tawa, wajah cantik para penari dipoles sedemikian rupa namun kecantikanya tak bisa tertutupi, Emban, pengasuh, pembantu bila diperlakukan dengan baik kebaikannya melebih saudara, dan mereka adalah bagian dari keluarga, mungkin pesan tersebut yang ingin disampaikan oleh penata tari yang ditampilkan semalam.


Dalam sambutan sebelumnya, pejabat Bupati Ponorogo menyatakan, perayaan Grebeg Suro kali ini mengambil tema 'Pelestarian budaya dan mengangkat potensi budaya daerah'. Grebeg Suro adalah prosesi keagamaan dalam menyambut datangnya tahun baru Hijriyah yang dipadu dengan budaya, mendapatkan sisi ekonomi, lanjut Bupati dalam sambutannya. Meningkatnya hunian hotel, munculnya hotel, meningkatnya transaksi kuliner maupun transportasi menjadi salah satu dampak ekonomi bagi masyarakat, jelasnya lagi.
Dalam festival ini Bupati menyatakan ada 40 grup reyog yang akan berlomba, 25 dari luar Ponorogo dan 15 dari dalam Kabupaten Ponorogo. Kesemuanya grup yang terbaik di daerahnya masing-masing dan dari grup terbaik ini akan dijadikan barometer perkembangan reyog di Indonesia, imbuhnya lagi.
Dalam kesempatan semalam juga diserahkan piala bergilir presiden dari pemenang tahun lalu, yaitu grup reyog Singo Manggolo SMA 1 Ponorogo kepada Ketua Panitia Agus Pramono yang selanjutnya diserahkan kepada pejabat Bupati untuk diperebutkan kembali.


Gus Ipul juga terpukau oleh penampilan grup reyoh Singo Budi Utomo, grup reyog dari Univesitas Muhammadiyah Ponorogo, para penari dan nayagonya masih belia. Gerakannya rancak penuh kreasi namun masih berada di jalur pakem, di mana ada patokan yang harus dipakai dan patokan yang tidak boleh dilanggar.
Gus Ipul memuji dengan mengatakan, "Reyog itu penuh dengan kelembutan, penuh dengan keperkasaan, penuh dengan semangat, penuh dengan kerja sama, semoga ciri khas reyog ini bisa menginspirasi para pemimpin di mana harus berbuat lembut, kapan harus berbuat tegas, dan harus pandai mengorganisir."
Sosok arif seperti Klono Sewandono, perkasa seperti penari reyog dan para warok, luwes seperti penari jaranan, dan lincah seperti penari ganongan adalah modal sebagai pemimpin dan modal bagi para tunas muda yang akan menjadi penerus negara ini, imbuhnya lagi.


Tari Sawung Asmoro menjadi tari penutup pada acara pembukaan semalam, tarian ini bersumber cerita dari legenda Ponorogo tentang kisah cinta Joko Lancur anak Ki Onggolono yang suka berjudi dan menyabung ayam dengan Amirah putri dari Kyai Ageng Mirah. Kisah cinta ini ditentang oleh orang tua kedua belah pihak, perbedaan keyakinan dan adat istiadat yang melatarbelakangi. Kisah cinta mereka berlanjut dengan beberapa persyaratan dari Kyai Ageng Mirah. Dengan kekuatan sihir Ki Onggolono semua persyaratan bisa dipenuhi. Mengetahui semua hanya maya dan karena ilmu sihir, Kyai Ageng Mirah berdoa kepada Alloh agar yang benar diperlihatkan benar dan yang batil dipertunjukkan, dan doanya dikabulkan oleh Alloh. Semua persyaratan berubah jadi wujud aslinya, padi berubah menjadi jerami, kedelai berubah menjadi titen (kulit kedelai) wujud aslinya.
Ki Onggolono marah dan kemarahannya ditujukan kepada putri Amirah sehingga putri Amirah sampai menemui ajal. Mengetahui kekasihnya meninggal, Joko Lancur akhirnya bunuh diri dengan menusukkan keris pemberian ayahnya ke dadanya. Keduanya meninggal dalam kisah cinta yang tak sampai. Sampai saat ini kutukannya masih terasa. Warga dari kedua desa tempat mereka tidak berani saling berpasangan saling besanan sampai sekarang ini.






mc 
Acara pembukaan semalam juga dihadiri oleh beberapa kepala daerah seperti Bupati Pacitan, Bupati Madiun, Walikota Madiun, pejabat Bupati Kediri, Bupati Nganjuk, Bupati Trenggalek, bupati Blitar bahkan Bupati Gunung Kidul juga hadir.

Banyak ucapan selamat berupa karangan bunga dari berbagai instansi, perwakilan pemerintah daerah, dan tampak pula ucapan dari Gubernur DKI Jakarta Ir. Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), beliau mengirimkan karangan bunga karena tidak bisa hadir dalam acara pembukaan kemarin. Tidak berlebihan kalau Gubernur mengucapkan selamat karena group reyog DKI Jakarta sering menjadi langganan juara festival reyog yang berskala nasional seperti ini.

"Selamat datang di Bumi Reyog, Selamat datang di kota Budaya"
 

Oleh Nanang Diyanto

Friday, October 2, 2015

Simaan Alqur'an Menandai Dimulainya Perayaan Grebeg Suro 2015 Kabupaten Ponorogo



Ponorogo, 30 Oktober 2015
Menyambut rangkaian kegiatan perayaan Grebeg Syuro tahun 1436 Hijriyah di Kabupaten Ponorogo kemarin diselenggarakan Simaan Al-Quran Mantap dan Dzikrul Ghofilin. Simaan tersebut bertempat di pendopo agung kabupaten Ponorogo di sebelah utara alun-alun. Simaan ini sekaligus sebagai pertanda dimulainya serangkaian perayaan Grebeg Suro di kabupaten Ponorogo tahun ini.

Prosesi simaan ini sudah dimulai semenjak bakda isya’ (29/10/’15) dihadir para jamiin, jamiat, dan para pejabat di lingkungan Pemda Ponorogo. Acara dibuka oleh Kabag Kesra mewakili Bupati Ponorogo, ucapan terima kasih atas partisipasi pengurus dan Jamaah Dzikirul Ghofilin buat Ponorogo, dan tentunya sebagai motivasi dan penyemangat untuk mewujudkan Ponorogo yang makmur, gemah lipah lohjinawi, yang diridhoi Alloh. 
Menurut Hartono dan Hariyanto pegawai pemda yang kemarin bertugas sebagai seksi perlengkapan dan mendapingi kegiatan ini, Simaan Al-Quran Mantap dan Dzikrul Ghofilin sendiri adalah kegiatan rutin setiap hari Rabu Pahing, kegiatanya pengajian keliling berpindah-pindah tempat namun masih dalam area Ponorogo. Simaan ini dihadiri 15 an ribu jemaah, uniknya mereka datang bergelombang, ada yang sudah datang pada waktu  pembukaan, ada yang waktu simaan dimulai yaitu bakda subuh (30/10/’15), dan pada puncaaknya pada menjelang sholat dhuhur sampai isya’ dimana acara selesai dan ditutup. AcaraDzikrul Ghofilin  dipimpin oleh Gus Amik pengasuh pondok pesantren Mayak Tonatan.
Sedangkan Dzikrul Ghofilin bermakna dzikirnya/ ingatnya orang-orang yang lupa dengan Alloh. Wirid Dzikrul Ghofilin itu isinya berupa bacaan-bacaan yang untuk beribadah, munajat atau berbisik, menghadapkan diri dan berdo’a dihadapan Alloh, Dzat Yang Maha Kuasa dengan merendahkan diri, merasa serendah-rendahnya, tawadhu’, khudu’, tadhorru’, khusyu’, adalah merupakan suatu senjata yang ampuh yang sangat kita butuhkan untuk meminta apa saja dan disempurnakan atau diselingi dengan Asma’ Ul Khusna, istighfar, sholawat dan tahlil.
Pihak pemda nyaris hanya menyediakan tempat, karena semua perlengkapan sudah menjadi inventaris jamaah, mulai peralatan untuk wudlu, tenda (terop), tikar, Alqur’an, soud system, sampai-sampai untuk urusan makan sudah menjadi tangung jawab dari jamaah. Ada donator dari tiap daerah yang mengirim nasi bungkus (pelangan) begitu juga minumnya.

 


Rata-rata usia para jamaah adalah orang lanjut usia, diatas 50-an tahun seperti halnya mbah Darmokerto dia rutin dating setiap Rabu Pahing meski usianya sudah 80-an tahun. Dia datang bersama rombongan sanak saudara dan tetangganya dengan menumpang truk terbuka. Tapi banyak juga diantara jamaah adalah usia dewasa muda.
“Oalah mas wis tuwo wis wayahe ngerong, gek arep pengin opo maneh, sak gaduk-gaduke nyedak sing Ngawe Urip…..” katanya kemarin, dia merasa sudah tua sebentar lagi masuk liang lahat sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi, dia berusaha semampunya mendekat Sang Pencipta.
 

Simaan sendiri berasal dari bahasa Arab Sami’a yang berarti mendengarkan/ menyimak. Bisa diartikan pula menyemak, satu membaca yang lainnnya mendengarkannya.
Khufadzul Qur’an (penghafal Alqur’an) melantunkan ayat-ayat suci Alqur’an dan para Jemaah mendengarkan dan menyimaknya. Kegiatan ini sebagai sarana taqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh untuk jalan menuju taubat sekaligus menjadi sarana introspeksi diri dan mengadu kepada sang pencipta, sekaligus menjadi ajang silaturokhim antar sesama umat Islam.
Do’a bersama sekaligus sebagai sarana ungkapan cinta kita kepada Alloh, rosululloh, shokhabat, auliya’, salafush-sholih, ulama’, orang tua dan segenap ikhwan muslim baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal.
Lantuanan Ayat-ayat suci Alqur’an dimulai sehabis sholat subuh, dan menjelang sholat duha istirahat untuk melaksanakan sholat duha berjamaah, lantunan ayat suci dimulai lagi sampai masuk waktu sholat dzuhur, dilanjutkan sampai masuk waktu sholat ‘ashar, berlanjut sampai masuk waktu sholat maghrib sehabis sholat maghrib dilanjutkan dengan mengamalkan aurod/wirid dzikrulghofilin dilanjutkan sholat ‘isya’ berjamaah.


Do’a khotmil qur’an yang sebelumnya diisi dengan mau’idzoh khasanah,dan juga perlu diketahui bahwa kegiatan Simaan Al Qur’an diadakan hanyalah untuk beribadah kepada Alloh semata demi keselamatan kelak diakhirat, dan bukan untuk kepentingan dunia. Sekaligus sebagai pembelajaran miniatur kehidupan kita sehari-hari bahwa kita ini diciptakan oleh Alloh didunia hanyalah untuk beribadah semata.


Ramainya suasana dimanfaatkan para pedagang untuk meraup rejeki, pedagan ini pedagang yang selalu hadir ketika simaan dilakukan. Mereka ikut keliling kemana kegiatan digelar.
“Golek rejeki lan pisan melu simaan mas, ndonyane entuk akherate yo bagian …….” Kata mbah Madi sambil tertawa yang jualan kopi di area Simaan. Dia mengatakan sambil jualan kopi sekaligus ikut seaman, dunianya dapat akheratnya juga kebagian. Dan tak hanya penjual makanan dan minuman penjual pernak pernik ibadah seperti tasbeh, buku buku Islami, kerudung, mukena, peci, serta minyak minyak wewangian juga nampak dan mereka selalu ada ketika acara Simaan di gelar.
 “Selamat Datang di Kota Budaya, Selamat Datang di Bumi Reyog”

Ditulis & Foto : Nanang Diyanto